Archive for September, 2007

LET THERE BE LIGHT

Monday, September 24th, 2007

+ Kebanyakan orang mencari terang atau kebetulan sudah ketiban terang. Masalah  muncul ketika orang menyangka kalau dia sudah menemukan lalu dia berkeyakinan bahwa terang yang dia punya itu lah terang yang paling terang dan menganggap terang yang dipegang orang2 lain adalah terang yang suram atau malah terang yang palsu.
- lho, bukannya seseorang itu harus punya keyakinan? iman? percaya bahwa
apa yang dipercayanya itu layak dan harus di pegang teguh sebagai
kepercayaan? dari sekian banyak "jalan" yang ada di sekeliling, apa iya semuanya menuju kepada terang yang benar itu? pastinya yang satu yang kita pilih itu lah yang benar. "Jalan" kepada terang itu benar, karena itulah "jalan" yang kita pilih.

+ justru karena ada banyak "jalan" itu, terang yang benar itu pastinya tidak akan  membawa keyakinan bahwa kita ini lah yang paling benar, tapi malah membawa pengertian bahwa sesungguh nya kita semua ini layak "dikasihani". Karena sehebat apapun kita berusaha, kita tidak akan pernah bisa menemukan dan mencapai terang yang benar-benar terang.  Kalau ada orang yang mendapatkan terang yang memberi keyakinan bahwa dialah yang paling benar sendiri, berarti yang didapati orang itu bukanlah terang yang dia cari dan bukan terang yang sesungguh nya yang bisa  menerangi bahkan juga orang2 lain, tapi malah gelap gulita yang bakal dia sebarkan ke mana2.

INTO THE VOID

Thursday, September 13th, 2007

- "KASIHILAH SESAMA MU MANUSIA SEPERTI DIRIMU SENDIRI"
+ wah, udah gak relevan itu omongan.
- ga relevan gimana? itu sumbernya bukan sembarangan itu
+ lha, "mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri" itu kan artinya menjadikan orang lain sbg cerminan mu. "You shall love your neighbor as yourself." berarti sama seperti kita selalu memikirkan apa yang baik buat dirimu, kita harus juga selalu memikirkan yang baik buat orang2 di sekitar kita.
- itu gw mah ngerti. Tapi ga relevannya sekarang itu dimana?
+ gini, sekarangkan jamannya semua serba "kompetisi", "to each his own", "every one man for him self", "siapa cepat dia dapat", "kesempatan tidak datang dua kali" dll, dsb. Lingkungan dan keadaan sekitar mengharuskan kita berbuat sesuai "norma2" yang sekarang ada itu, bila kita ingin mendapatkan apa yang kita inginkan. "KASIHILAH SESAMA MU MANUSIA SEPERTI DIRIMU SENDIRI" mewajibkan kita untuk selalu mendahulukan orang lain, dirimu kemudian. Bila kita memandang sesama sebagai kompetitor, bagaimana kita bisa melihat dia sebagai "sesama kita"? bila kita sudah beranggapan "wajar bila ada orang yang kalah dalam perjuangan hidup" dan dengan demikian "orang lain dan kebaikan mereka bukanlah tanggung jawab saya", dan "keberhasilan saya adalah hasil jerih payah saya sendiri, biar orang lain berjerih payah sendiri juga kalau mereka mau berhasil" bagaimana mungkin kita mampu melihat mereka sebagai "diri kita yang lain"? Intinya, ucapan diatas itu sekarang tidak lah relevan dan tidak realistis .
- tidak realistis?
+ ‘tul. Tidak realistis. karena orang yang hari gini masih merenungkan kalimat itu dan menganggap
kalimat itu sebagai "amanat agung" yang musti di wujudkan dalam
kelakuan sehari-hari bakal digilas oleh jaman. Dan bila memang realistis, maka yang mengucapkan kalimat diatas dulu tidak akan pernah di salibkan oleh orang banyak
- kalau begitu, apa yang realistis dan relevan sekarang ini?
+ Ngopi.
- Ngopi?
+ Tul. Ngopi. Relevan dan realistis sepanjang masa, hingga akhir jaman. Amen

OPIUM FOR THE MASSES

Saturday, September 1st, 2007

- selamat siang koh
+ ha, siang, ada apa you pangil2 ai siang2 begini ha? jin juga punya jadwal tidul siang juga, you know?
- sori koh, saya ada kebutuhan mendesak nih
+ ha, apa itu?
- gini koh, saya udah capek liat indonesia kayak gini. saya mau request koh?
+ ha, mau liques apa you hali ini?
- gini koh, saya mau minta supaya indonesia ini di bikin maju dan sejahtera, capet2 keluar dari kubangan yang sama orang banyak disebut "krisis" ini. dibikin supaya buruh2 bisa dapat income yang cukup buat sampai nguliahkan 3 anak sampai lulus S1 minimal, guru2 juga bisa pada dapet S3, biar muridnya pada pinter2. juga supaya tidak perlu lagi kita kirim2 orang cuma buat jadi babu di negara lain. trus penguasaan tehnologi disini jadi tidak jauh2 amat dengan amerika atau eropa. pokoknya indonesia dibikin keren dah koh. penduduknya makmur dan senyum2 terus. bisa kan?
+ ha, you punya liques ini hali does not makes ai punya sense, ha. itu liques sulit punya, ha.  ai ga bisa kasi you punya liques.
- ah, masa ga bisa sih koh? katanya engkoh ini jin yang paling yahud?
+ ai emang jin yahud punya, tapi you punya liques itu yang mustahil buat ai. gini lah, ai udah tellanjul bangun nih, bial gak sia2, you ada liques lain ngga?
- ya udah deh koh, ini aja, saya minta bisnis saya di bikin lancar, trus saya minta bisa punya mobil baru, trus rumah, trus istri. kalo bisa istri saya itu ada spare nya koh. jadi ada gantinya kalo2 yang pertama kenapa2 di tengah jalan, maklumlah koh, saya ini paling ga tahan kesepian. o iya, trus dibikin juga supaya anak2 dan cucu2 saya nanti hidup terjamin ya koh, 70 turunan kalo bisa. minimal 10 turunan lah.
+ haaaa… begitu dong. itu balu liques belkualitas. udah libuan kali ai ketemu liques itu macam. kalo cuma minta banyak harta, bini cantik2, itu gampang punya buat ai. you tidul tenang-tenang aja ini malam, ha. besok pagi you punya liques itu bakal beles punya. sekalang you minggat dulu la. ai mau ngopi dulu. selamat sole.

COGITO ERGO SUM

Saturday, September 1st, 2007

+ aku pengen sekolah, mak
- hus, nak, gembel macam kamu itu tidak punya hak untuk sekolah, nak, sekolah itu hanya untuk mereka-mereka yang mampu bayar, nak
+ tapi, mak, kata orang-orang sekolah itu perlu, mak. Katanya orang bisa punya kemungkinan lebih besar untuk hidup lebih baik kalau dapat pendidikan, mak
- betul, nak. pendidikan itu tidak hanya bisa mengantar mu ke masa depan yang mendingan. pendidikan juga membuat mu bisa berpikir, memberimu pengetahuan-pengetahuan dan perangkat-perangkat berpikir yang bisa mengantarmu kepada pengenalan siapa dirimu, nak. COGITO ERGO SUM, nak. pendidikan juga membuat mu beradab, nak. jadi terbiasa menggunakan nalar yang berkualitas. tidak seperti kita sekarang, cuma mengandalkan insting seperti kera yang langsung memanjat pohon kalau lapar atau seperti dubuk yang jadi berani mengeroyok singa karena lapar.
+ makanya mak, aku mau sekolah. aku mau bisa punya nalar yang berkualitas . aku tidak mau terus jadi seperti kera atau dubuk. aku mau beradab.
- emak sudah bilang, lihat siapa dirimu, nak. kamu cuma gembel.  kamu itu cuma asesoris jalanan, seperti halnya lampu lalulintas atau zebra cross atau pintu penyeberangan kereta api. pendidikan untuk mu itu seperti bulan untuk kecoak.
+ tapi, mak…
- sudah lah nak, terima saja nasib mu. COGITO ERGO SUM, nak. kamu ada karena kamu bisa berpikir. kamu baru bisa bisa berpikir kalau kamu sudah terima pendidikan. tapi kamu tidak bisa berpendidikan karena kamu cuma gembel kolong jembatan, karena itu kamu tidak bisa berpikir. jadi, COGITO ERGO SUM, nak.  karena kamu tidak bisa berpikir berarti kamu tidak ada, nak. tidak exist.