-: history repeats it self.
+: sering kali
- : kenapa ya?
+: ya, karena "adanya" manusia. Bawaan manusia sendiri.
-: lho, harusnya seiring kemajuan, pendidikan, science, tehnologi dsb2, harusnya kan yang lain2 ikut maju
+: kenyataannya gak tuh. Masalah2 yang dulu pernah ada, sekarang timbul lagi, dalam mode dan skala yang berbeda seiring perkembangan yang lain2 itu. Tapi substansi nya sama. Penyebabnya ya itu2 juga. Kurang sensitip sama orang lain.
-: kenapa ya?
+: mungkin begini, manusia itu terbatas. Untuk hal2 yang sifatnya kognitif, pengetahuan, isi kepala, bisa diwariskan via sekolah, buku2 atau media transfer lainnya. Itu kenapa tehnologi bisa berkembang. Karena kita, sbg komunitas, tidak harus memulai dari nol. Tapi untuk yang affektif, nilai2 yg ditanamkan sbg hasil "penalaran mental", misalnya "menghargai orang lain", itu tidak bisa di wariskan lewat komunitas. Masing2 individu harus mulai dari Nol. Harus melalui proses pembelajaran dari awal dan melalui perenungan2 dulu baru bisa terjadi penanaman nilai2 dalam dirinya. Anak kecil harus diajari untuk menghormati orang lain, lewat perbuatan, tapi hanya sebatas mereka meniru dan mematuhi perintah dari orang yg lebih tua. Untuk akhirnya bisa memahami sendiri dalam hati bahwa individu2 lain adalah memang layak untuk dihormati, itu perlu waktu amat lama. Dan masing2 orang tidak melalui proses pembelajaran yang sama atau menanamkan nilai2 yang sama sbg hasil dari pembelajaran masing2, karena manusia itu dipengaruhi lingkungan. Jadinya nilai2 yang akhirnya tertanam dalam diri masing2 orang itu berbeda. Seseorang bisa tahu kalau orang lain itu harus dihargai, tapi belum tentu dia paham bahwa semua orang lain itu selayaknya di hargai. Yang lebih parah, bisa seseorang baru mau menghargai orang lain, bila ada something in return buat dia.
-: Jadinya, yang timbul sekarang2 ini sebenarnya adalah "penyakit" lama, tapi gaya baru?
+: Gw harap begitu. mungkin karena itu tadi, karena perkembangan aspek manusia yang kognitif, itu jauh lebih cepat dari yang affektif, otak lebih mudah "di ajar" dari pada hati dan perasaan, jadinya lebih mudah bagi manusia untuk mengembangkan alat komunikasi paling baru dari pada mengembangkan kebersamaan via komunikasi. Dari segi tehnologi, misalnya, manusia tambah maju, tapi dari segi mental, malah jalan ditempat. Banyak kasus malah menunjukkan kemunduran di banding dgn yang pernah dicapai pendahulu2 kita.