the world is not enough
Friday, March 17th, 2006+:"suka perhatiin "senior citizen" deket2 lo bro?"
-:"kadang, ‘napa?"
+:"old, weak"
-:"kodrati, kan? to grow old?"
+:"iya, dulu waktu lahir, kita zero experience. Sembari nambah umur kita gather experiences, knowledge, via interaksi dengan sekitar, belajar. trus kita makin nambah dewasa, masih belajar, tapi udah bisa nentukan kita mau jadi apa dan bagaimana berdasarkan hasil pembelajaran yang lalu. lalu kita jadi orang tua. fungsi organ2 tubuh mengalami kemunduran, jadi bisa ngompol lagi, pikun, tidak bisa lagi berinteraksi dgn lingkungan seperti dulu. tapi spiritually, kita tidak bertambah tua. kita jadi pikun karena sel otak yang sudah tidak sebanyak dan sebagus waktu lebih muda. Kita perlu bantuan orang untuk berjalan, karena tulang dan otot yang tidak lagi kuat menyangga tubuh. kita mengalami kemunduran, karena tubuh yang kelihatan yang menjadi tua. tapi apa yang di contain oleh tubuh itu sendiri, spirit, yang tidak kelihatan yang menjadikan kita masing2 pribadi2 yang unik, tidak menjadi tua"
-:"tau dari mana lo? mang pernah jadi orang tua?"
+:"kita kan bisa liat kalo beliau2 itu masih punya emosi. setua apa pun seseorang, pasti bisa senyum dan menangis. emosi2 yang sudah kita punya dari kita masih bayi, masih ada. ada kasus orang berumur lebih dari 100 tahun,masih lancar berkomunikasi dan punya ingatan yang lumayan bagus"
-:"intinya, yang menjadi tua dari kita adalah cuman tubuh kita? tapi roh, yang didalam, kagak, gitu?"
+:"iya. dan semua pengalaman yang kita alami, pengetahuan dan pemahaman yang kita peroleh lewat proses belajar seumur hidup sebelum nanti akhirnya kita mati, gw yakin tidak kita alami cuma untuk jadi sia2. tubuh boleh mati karena kodrat, tapi the spirit, forever young, will carry on. jadi kita punya alasan untuk tidak takut mati"
-:"tapi, abis tubuh kita ini mati, kita kemana, man?"
+:"itu dia"